Tampilkan postingan dengan label orang madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang madura. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Oktober 2017

Hari 30 September

Hari ini 1 Oktober diperingati sebagai hari Kesaktian Pancasila. Kesaktian Pancasila diperingati sebagai tanda adanya peristiwa paling penting bagi bangsa ini, percobaan kudeta untuk mengganti idelogi negara. September 1965 menjadi bulan kelabu bagi bangsa kita, partai berideologi komunis dianggap sebagai dalangnya.Kesaktian Pancasila selalu gegap gempita diperingati setiap tahunnya saat orde baru. Terlebih setiap tanggal 30 September selalu ditayangkan film tentang kudeta yang gagal yang mengakibatkan beberapa jenderal menjadi korbannya. Namun, tidak hanya itu ratusan ribu bahkan jutaan manusia harus menjadi korban juga. Banyak pembantaian terjadi yang luput dari catatan sejarah.

Namun, saya tidak membahas apa yang terjadi saat itu. Kali ini saya akan menyinggung bagaimana orang Madura menanggapi peristiwa 30 September itu. Bagaimana tiba-tiba banyak orang menjadi peduli dengan ideologi asal Eropa timur ini.Pasca orde baru peringatan 30 September seakan tenggelam, label bekas anggota partai mulai dihilangkan. Sebelumnya keluarga anggota partai selalu dikucilkan dan dibuang dari haknya sebagai warga negara.  

Namun, saat era reformasi masyarakat mulai tidak mempermasalahkan sejarah. Terlebih pemerintah saat itu dengan alasan hak asasi mulai memperbaikinya keaadan. Alasan lainnya juga lantaran ideologi ini mulai ditinggal bahkan di negara asalnya di belahan Eropa. Kapitalisme dan liberalisme terlalu kuat melahap idelogi sosialis.

Di Madura, semenjak saya kecil hanya heboh saat tanggal 30 September saja sebab pada hari itu seharian diputar filmnya di stasiun tv. Saat itu hanya ada 5 stasiun saja dan semuanya menayangkan film buatan tahun 70an itu.

Pasca reformasi bahkan cenderung tidak ada hal serius tentang peristiwa 30 september. Orang Madura adem ayem, tidak ada kekhawatiran tentang terulangnya kejadian puluhan tahun lalu. Orang Madura justru lebih takut tanahnya dikuasai orang luar Madura.

Namun, sayang, baru tahun ini saja orang Madura mulai heboh. Entah karena memang paham akan peristiwa 30 September itu, atau hanya sekedar meramaikan isu saja. Hal ini yang masih menjadi tanda tanya bagi saya.

Sempat dalam beranda media sosial saya, saya membaca beberapa status yang cukup mengelus dada. Salah satunya adalah menyebut semua orang Tionghoa berideologi sama, dalam benak saya apakah dia tahu kenapa Taiwan sampai dimusuhi oleh China? Ya, karena kedua negara satu rumpun ini berbeda ideologi. Hal ini mengartikan jika tidak semua orang paham akan tentang ideologi yang dilarang disebut oleh orde baru ini.

Dalam tataran pemahaman ideologi saja masih banyak belum paham, apalagi membahas kepentingan dibalik peristiwa 1965. Teori konspirasi akan terasa begitu sulit dimengerti bagi mereka yang yang hanya ikut-ikutan saja. Sejarah memang milik penguasa, karena mereka yang berhak menulis sejarah.

Senin, 04 September 2017

Anak Surfing Madura

Dari T-Shirt hingga sendal, semuanya bermerek apparel yang identik dengan olahraga Surfing. Mulai kualitas bajakan dengan harga puluhan ribu hingga kualitas original berharga ratusan ribu.

Sebenarnya topik yang akan saya bahas bisa dikatakan topik yang receh. Saya cuma membahas gaya berpakaian anak muda madura belakangan ini. Namun, saya cukup gemas jika tidak menuangkan apa yang ada dalam pikiran saya, mungkin karena saya merasa ada yang aneh dengan gaya berpakaian meraka. Bahkan saya menganggap gaya berpakaian anak muda madura ini seperti sebuah fenomena yang meledak yang berimbas pada banyak hal, seperti ekonomi, bahkan budaya. Sayangnya penjabaran saya tersebut hanyalah berdasar perspektif pribadi saya saja sebagai orang madura.

Belakangan ini saya sering sekali berjumpa dengan beberapa anak muda berpakaian cukup fashionable menurut saya. Secara jelas terlihat beberapa merk yang bagi saya cukup premium dan berasal dari luar negeri. Merek premium ini biasanya dipakai oleh turis asing saat berkunjung menikmati pantai-pantai di indonesia. Merek-merek asing ini memang identik dengan olahraga surfing atau selancar. Awalnya saya menganggapnya sebagai sebuah kemajuan bagi kehidupan anak muda madura.

Tidak hanya segelintir anak muda saja, bahkan mayoritas anak muda madura yang sering kongkow juga berpakaian ala anak surfing. Saya tidak tahu alasan mereka mengapa memilih merk-merk asing tadi, apakah karena memang fanatik, atau korban tren. tetapi yang cukup menarik adalah tren fashion kekininan ini menjadi meledak di madura. Merk-merk apparel surfing ini melengkapi setiap aktifitas anak muda madura, mulai kongkow, bahkan sampai datang ke pengajian. Dari sekedar T-Shirt sampai sendal pasti semua bermerk apparel surfing.

Saya cukup terkagum sekaligus heran terhadap fenomena ini, terkadang terbesit pertanyaan, apakah outfit yang meraka pakai asli? pasalnya harga untuk kualitas original paling murah berkisar ratusan ribu. Pertanyaan yang kedua adalah, apakah para anak muda ini juga hobby surfing? kalau iya, apakah ombak laut pulau madura sudah bisa dinaiki papan surfing, hehehehe. Rasanya ingin bertanya langsung kepada salah satu anak muda yang mamakai T-Shirt merk Quicksilver yang hadir dalam acara tahlilan di kampung saya.  Saya juga ingin bertanya kepada seorang pemuda yang memakai topi Ripcurl dan bersandal Billabong, dimana kamu mebeli barang-barang yang kamu pakai? sayangnya, masih belum ada kesempatan bertanya karena pemuda tadi tengah asik membonceng seorang perempuan yang mengenakan baju gamis.

Rabu, 15 Juni 2016

Jagat Media Sosial

Hiruk pikuk media sosial bukan lagi hal yang bisa disepelekan. Kebencian disebar secara sporadis di media sosial. 

Media sosial saat ini saya menyebutnya hutan belantara. Ibarat hukum alam, yang kuat yang menang, di media sosial yang kuat adalah yang terbanyak "like". Media sosial saat ini sudah tidak seramah dulu, banyak menebar kebencian dan rasisme. Esensi awal media sosial sebagai media menambah teman sudah bergeser menjadi ajang debat bebas.

        Mengenal media sosial melalui friendster 12 tahun lalu, boleh dikatakan jika friendster adalah "kakek" dari semua media sosial sat ini. Saat itu friendster masih sangat sederhana, hanya sebatas berbagi video, foto, pesan dan komentar dengan anggota lain melalui profil dan jaringan mereka. Komentar yang datang sangat bersahabat, karena saat itu hanya benar-benar orang dikenal yang menjadi teman. Meskipun ada status pedas dan komentar pedas, tetapi tidak sebebas dan cenderung rasis seperti sekarang. 

        Sering waktu, kemudian muncul media sosial lain, seperti Twitter dan si raksasa facebook. Kedua media sosial ini mulai disukai dan menggeser friendster karena beberapa fitur yang tidak dimiliki oleh friendster. Seperti fitur untuk bisa mentautkan berbagai alamat website di halaman status. selain itu, kecepatan dan kemudahan interaksi oleh sesama pengguna facebook dan twitter membuat keduanya semakin disukai. Serta masih banyak fitur lain yang membuat facebook dan twitter menjadi media sosial paling banyak penggunanya secara global, baik lintas budaya dan lintas agama.  

        Saat itu tahun 2008 dimana facebook dan Twitter baru mulai saya kenal. Akan tetapi  akses media sosial masih terbatas, mayoritas masih mengakses di PC atau laptop. Kecepatan update informasi media sosial juga lambat dan terbatas. Perkembangan media sosial saat itu terbilang masive dan lambat. Keterbatasan teknologi dan akses internet membuat media sosial masih belum banyak penggunanya, khususnya di indonesia. Baru kemudian karena perkembangan smartphone, jadilah media sosial menjadi identitas kedua bagi masyarakat. Hampir setiap pengguna smartphone pasti memiliki akun media sosial, tidak hanya satu melainkan dua atau tiga. Sontak, kehidupan seperti berpindah dari dunia nyata ke dunia maya, termasuk berbagai isu SARA.

Penyebar Kebencian
      sosial saat ini yang bisa dibilang sebagai media penyebar informasi masyarakat atau dikenal dengan istilah citizen jurnalism. Banyak peristiwa penting yang disebar di media sosial, kecepatan penyebaran disebabkan fitur repost oleh sesama pengguna. Ironisnya adalah segala jenis informasi bisa disebar baik informasi bermanfaat atau informasi yang kurang bermanfaat. Penyalahagunaan media sosial akhirnya berkembang cukup signifikan, mulai dari kasus penipuan hingga pencermaran dan fitnah.

        Dan, saat ini media sosial begitu menakutkan, kebencian ditebar. Bahkan beberapa kasus hukum bermula dari media sosial ini. Teman jadi musuh, keluarga jadi berjauhan. Meskipun tetap ada hal positifnya, namun saya yakin tetap banyak orang yang skeptis. Mengapa dengan semakin canggihnya media sosial justru membuat kita semakin primitif. Hanya melihat tanpa mencerna. Hanya melihat dari satu sumber tanpa memperbandingkan sumber lain.

        Masyarakat cenderung menelan mentah-mentah segala informasi di media sosial. Terkesan tidak ada langkah pengujian informasi lagi, seperti membandingkan dengan sumber-sumber lainnya. Ada istilah HOAX yang belakangan dikenal di jagat media sosial. HOAX adalah istilah untuk segala informasi yang diragukan kebenarannya atau memang informasi palsu. 

       Masyarakat sangat menyukai informasi yang melabel tentang agama dan politik. Informasi baik berupa artikel taua hanya foto yang menjadi viral di masyarakat hanya karena membawa label agama dan politik. Bukan hanya informasi yang bermnfaat, informasi yang cenderung negatif justru seperti mendapat tempat di masyarakat. Akhirnya, masyarakat tidak bisa lagi membedakan mana informasi bermnfaat atau informasi yang bersifat penghinaan.

Bisnis Kebencian
       Isu SARA dan politik menjadi favorit konsumsi masyarakat di media sosial. Etnosentrisme menjadi praktek terselubung yang dilakukan masyarakat di media sosial milik mereka. Segala posting yang berhubungan dengan SARA dan politik akan sangat cepat direpost oleh akun lainnya. Masyarakat secara tidak langsung menebar kebencian, meskipun hal tersebut dianggap benar oleh mereka.
      
      Fenomena ini kemudian dimanfaatkan oleh beberapa oknum cerdas. Mereka memanfaatkan kepanikan masyarakat dengan sengaja membuat konten yang disukai. Bahkan beberapa konten sengaja dibingkai ulang supaya semakin disukai. Oknum-oknum yang terkadang menyebut diri mereka sebagai politikus, atau bahkan pemerhati agama sengaja meraih untung. Keuntungan akan didapat apabila blog atau fanpagenya disukai dan diikuti oleh banyak akun media sosial. Mereka mendapat untung dari iklan atau komisi dari pemasang iklan dengan sistem online.

Minggu, 22 Mei 2016

TV kekinian

Indonesia darurat moral, begitu tertulis dalam berbagai status di jagad media sosial. Berbagai kasus kejahatan sesksual belakangan ini terjadi lantaran kemunduran moral yang terjadi di masyarakat. Banyak penyebab yang membuat kerusakan moral generasi bangsa, salah satunya adalah konsumsi tontonan yang cenderung kurang mendidik. Konten media massa saat ini dinilai kurang memberikan edukasi bahkan terkesan menjadi cerminan merosotnya moral, khususnya media massa yang bebas akses seperti televisi.

Dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan salah satu pihak saja, baik tim kreatifnya atau pemirsanya yang seleranya rendah. Namun, seharusnya media massa dalam hal ini televisi bisa menyajikan tontonan bermutu dan mendidik. Memang pada awalnya cukup berat, terlebih kalau kemauan masyarakat masih menginginkan tontonan yang tidak bermutu. Apalagi media saat ini juga menjadi ajang bisnis, jadinya kepentingan pasar jauh lebih penting dari proses edukasi masyarakat yang merupakani fungsi utama sebuah media massa. Akhirnya pertelevisian indonesia masuk dalam lingkaran setan yang akan sulit perkembang, jika media hanya mengikuti kemauan pasar yang cenderung latah.

lalu apa kita hanya pasrah saja melihat realitas pertelevisian kita? Dan jawaban paling umum adalah kita tidak berbuat apa-apa lantaran pemilik media dan masyarakat pemirsa sulit menerima ide kreatif yang mendidik.

Sebenarnya inilah kemudian merupakan tanggung jawab pemerintah sebagai pengatur regulasi. Pemerintah harus berani melakukan inovasi regulasi yang berpihak pada masyarakat sebagai masyrakat yang seharusnya mendapat tontonan berkualitas. Media massa milik pemerintah selayaknya bisa menjadi langkah percontohan. namun media massa pemerintah jangan kaku dan terkesan terlalu konvensional. Media massa milik pemerintah seharusnya tidak terpengaruh pasar dalam melakukan inovasi untuk mengedukasi masyarakat.

Berkaca pada negara maju memang terkesan tidak adil buat kita, terlebih jika kita hanya melihat dari segi kesuksesan mereka sekarang. setiap negara maju pasti pernah mengalami proses yang seperti kita alami sekarang.

Masyarakat yang semakin teredukasi akan mendorong pemilihan program televisi yang berkualitas.Selanjutnya kreatifitas orang-orang televisis akan benar-benar dihargai.

Senin, 11 Januari 2016

Gurihnya Bebek Madura

Selalu ada yang khas dengan olahan bebek madura, mulai dari bumbu hingga cara memasaknya. Bahkan setiap daerah memiliki cara pengolahan dan penyajiannya sendiri. Bebek memang menjadi makanan bagi mayoritas orang madura sejak lama. Bahkan saat ini juga mulai disukai oleh orang dari luar madura. Tidak heran jika olahan bebek madura mulai bisa disejajarkan dengan makanan ikonik lain yakni sate madura.

Popularitas bebek madura semakin meningkat setelah adanya jembatan Suramadu yang membuat banyak orang berkunjung ke madura. Berkah banyaknya kunjungan ini membuat banyak rumah makan bermunculan, terutama di daerah bangkalan. Setiap rumah makan pasti menjual menu olahan bebek di daftar menunya. Mulai dari olahan bebek goreng hingga olahan sate bebek. Variasi menu serba bebek ini membuat pengunjung semakin dimanjakan dengan dengan kelezatan daging bebek madura. Beberapa rumah makan bahkan menjadi populer karena menu bebeknya, lalu membuka cabang karena tingginya minat pengunjungnya.

Gurihnya bebek madura turut meningkatkan jumlah permintaan bebek potong. Hal ini menjadi berkah bagi peternak bebek. Mereka setiap harinya memotong ribuan bebek untuk memasok kebutuhan rumah makan di sekitaran kota bangkalan saja. Tidak jarang sebuah rumah makan mesti memesan tidak hanya dari satu rumah peternakan saja.

Gurihnya bebek madura juga membuat media nasional datang berkunjung dan mebuat liputan khusus. Hal ini membuat orang-orang jadi tambah penasaran akan bebek madura dan berniat untuk menikmatinya. Baik langsung datang ke madura atau mendatangai cabang rumah makan yang saat ini bermunculan di beberapa kota di luar madura.

Tidak hanya menjadi konten acara di media cetak dan visual saja, gurihnya bebek madura turut menjadi fenoma tersendiri di dunia media sosial. Tidak dapat dipungkiri jika media sosial ini yang justru menjadi media promosi paling efektif bagi olahan bebek madura. Tidak terhitung jumlah postingan yang berisi konten olahan bebek madura. Fenomena seperti ini memang tidak bisa dilepaskan dari era kecepatan arus informasi seperti saat ini. Setiap orang bisa dengan berbagi informasi dengan berbagai berbagai konten.

Namun, gurihnya bebek madura ternyata tidak segurih realitanya. Ternyata hingga saat ini masih belum banyak literasi yang mengangkat kuliner ini. Saat ini kebanyakan hanya terdapat dokumnetasi yang hanya bersifat populer untuk kebutuhan media saja. Perlu ada pembahasan khusus tentang kuliner ini, pasalnya olahan bebek merupakan kuliner lokal yang sangat berhubungan dengan budaya lokal. Sebab makanan juga merupakan produk dari budaya masyarakat.







Rabu, 06 Januari 2016

Macetnya Jalanan Madura


Persoalan transportasi menjadi persoalan klasik di Madura yang tak kunjung ada solusi. Mungkin kalimat ini terkesan kasar dan sangat menyinggung. Namun, realita yang terjadi memang demikian, sulitnya transportasi sangat saya rasakan. Tidak hanya sulitnya transportasi, persoalan lain juga turut mengiringi, kemacetan akibat pasar tumpah yang berada di tepi jalan. Jadi bisa anda bayangkan bagaimana kemacetan yang terjadi jika aktifitas pasar tengah ramai dan sesak. Pasar tumpah memang tidak terjadi setiap hari di satu tempat saja, melainkan berpindah ke pasar lain. 

Pasar tumpah sendiri merupakan fenomea yang hampir terjadi di setiap daerah di Indoensia. Bedanya adalah jika di derah lain sudah mulai ada pengaturan yang berpamdak positif. Sedangkan di madura cenderung masih tidak ada dampak signifikan, tetap saja terjadi kemacetan setiap ada hari pasaran. memang hari pasaran tidak setiap hari. Meskipun terlihat adanya petugas, namun tetap saja kewalahan untuk bisa mengatasi kemacetan ini. Banyak faktor yang turut mrnjadi penyebabnya, bisa dari perilaku masyarakat atau memang kondisi sarana jalan yang sudah perlu diperlebar.

Jika dicermati, biang kemacetan dalam hal ini adalah bahu jalan yang diapakai parkir oleh kendaran. Entah disengaja atau tidak, yang jelas hal ini pasti menyebabkan kemacetan, terlebih jika yang lewat adalah kendaran besar. Kondisi jalanan di Madura memang tidak besar, sebagian besar hanya bisa dilewati oleh sebuah bus untuk satu lajurnya saja. Perilaku pengendara kendaraan juga turut menyebabkan kemcaetan, seperti main serobot sehingga membuat kendaaran di arah sebaliknya tidak bisa lewat. Terkesan seperti dibiarkan saja, kemacetan akibat pasar tumpah tidak ada perhatian khusu. Perlakuaan hanya sebatas penjagaan seadanya oleh petugas berwenang. 

Lalu solusi apa yang sebenarnya harus dilakukan guna mengatasi masalah ini? kita tidak hanya berbicara masalah teknis belaka. Melainkan juga masalah budaya dan kebiasaan masyarakat setempat yang memang sudah terbiasa dengan konidisi seperti itu. namun, masalahnya adalah kondisi lalu lintas yang semakin ramai tidak disadari. Jumlah kendaraan pemakai jalan semakin meningkat dan pelu jalan yang semakin lebar.

Kondisi lain adalah saat ini bemunculan aktifitas peminta sumbangan yang berada ditepi jalan. bahkan sebagian besar berada di tengah jalan untuk mengumpulkan sedekah dari penggunan jalan yang lewat. Aktifitas seperti ini cenderung membuat kemacetan karena pengguna jalan akan melambatkan kendaraannya. Seperti efek domino, kendaraan di belakangnya juga akan melambat. 


Senin, 21 Desember 2015

Realita Wisata Madura

Potensi wisata di Pulau Madura tidak perlu diragukan. Berbagai pilihan wisata (sebenarnya) terdapat di Madura, mulai wisata alam, budaya, kuliner, religi, hingga wisata minat khusus. Namun, semua potensi itu akan sia-sia jika tidak ada pengelolaan yang baik. Banyak lokasi wisata di Madura yang sebenarnya berpotensi untuk mendatangkan wisatawan, tidak hanya wisatawan lokal, melainkan wisatawan asing juga. Namun, realita yang terjadi tidak seindah yang kita bayangkan bahwa Pulau Madura bisa menjadi jujukan tempat wisata, apalgi bisa bersaing dengan tempat lain yang sudah populer. Berbagai kendala dan persoalan seolah membayangi pariwisata Madura, mulai dari fakto sarana dan prasarana penunjang, hingga faktor promosi yang sebenarnya mudah.



Lalu tanggung jawab siapa dalam pengembangan wisata ini. Tentunya pasti akan langsung menyebut pemerintah daerah sebagai pemangku wilayah. Namun, sejatinya bukan hanya tanggung jawab pemda saja dalam pengembangan wisata. Masyarakat juga memiliki peranan penting dalam pengembangan wisata. Pemda disini hanya berurusan dengan pengembangan dan perawatan prasarana, serta promosi secara formal. Sedangkan masyarakat yang bertanggung jawab pada pengondisian iklim wisata yang nyaman dan ramah bagi wisatawan. Kita sering mendengar banyak kejadian dimana calon wisatawan enggan berkunjung karena merasa tidak nyaman dan bahkan merasa tidak aman. Masyarakat dan pemda memang harus besinergi dalam hal pengembangan wisata, tidak bisa beraksi sendiri.

Jika keduanya masih belum bisa serasi, maka pengembangan wisata daerah akan jalan ditempat. Banyak lokasi wisata baik buatan maupun wisata alam yang sekarang kurang lagi diminati karena tidak ada perawatan dan pengembangan lanjut. Akhirnya, banyak calon wisatawan yang berinisiatif mencari sendiri info tentang lokasi wisata yang ada di sebuah daerah. Memang, kita sekarang hidup dalam cepatnya akses informasi, membuat siapa saja bisa dengan mudah menyebarkan informasi. Dalam konteks ini, pengembangan wisata akan berhubungan erat dengan promosi baik secara langsung atau tidak. Dahulu mungkin dulu hanya bisa dilakukan dengan penyebaran brosur buatan pemda di pameran wisata. Namun, sekarang langkah yang efektif justru menggunakan media sosial, karena mayoritas masyarakat memiliki akun media sosial.

Hal yang menarik adalah muncul beberapa lokasi wisata yang yang justru menjadi populer karena media sosial. Informasi ala kadarnya serta foto apa adanya justru bisa menarik minat banyak orang. Fenomena ini belakangan terjadi di dunia media sosial. Akhirnya, beberapa lokasi wisata baru bermunculan karena kehebohan di media sosial tadi. Katakanlah beberapa bekas tambang batu kapur yang menjadi populer dijadikan lokasi wisata alternatif, kemudia beberapa pantai yang lokasinya tersembunyi kemudian ramai dikunjungi. Popularitas beberapa lokasi wisata di Madura saat ini didongkrak oleh Media sosial.

Rabu, 02 Desember 2015

Kekuataan Foto Dalam Promosi Wisata

Beberapa waktu kemarin Jogjakarta dihebohkan dengan peristiwa pengerusakan taman bunga amarylis oleh pengunjung. Saya bilang dirusak karena pengunjung datang dan berfoto-foto tanpa memperhatikan kondisi taman, mereka menginjak tanaman hanya untuk bisa berfoto. Sungguh hal yang sangat disayangkan, padahal bunga Amarylis ini konon hanya berbunga sekali dalam setahun. Pengunjung berbondong mendatangi taman bungan ini lantaran karena sebelumnya ada sebuah foto yang diunggah di instagram, akhirnya banyak orang penasaran unutk mendatangi langsung.



Melihat foto memang adalah hal yang pertama dilakukan orang saat akan berwisata. Foto-foto tentang sebuah lokasi wisata akan menjadi daya tarik bagi calon wisatawan. Foto yang bagus akan membuat wisawatan penasaran dan kemudian akan mendatangi tempat wisata tadi. Banyak lokasi wisata yang menjadi populer berkat adanya foto-foto yang disebarkan, baik oleh pengelola atau dari pengunjung.

Saat ini, dunia pariwisata tidak dapat dipisahkan dari promosi visual. Promosi visual memang lebih menjual daripada promosi yang hanya berupa teks. Banyak lokasi wisata yang sengaja menampilkan hanya foto-foto dan video di websitenya. Memang, langkah ini terbukti berhasil menarik minat pengunjung. Para wisatawan akan berbondong berkunjung hanya karena melihat sebuah fot saja. 



Realita yang terjadi adalah tempat wisata yang dikelola oleh pihak swasta cenderung lebih menarik dalam segi promosinya. Pengelola swasta ini lebih menampilkan promosi dengan format selalu baru. berbeda jauh dengan lokasi wisata yang masih dikelola oleh pemerintah, cenderung ketinggalan jaman. Tidak jarang sarana promosi memakai foto-foto lama yang sudah berbeda dari kondisi sebenarnya.

Jika berbicara tentang Pulau Madura, menurut saya wiasata Madura masih belum dipandang sebuah aset berharga yang seharusnya segera dikembangkan dan dibenahi. Pariwisata Madura sebenarnya merupakan asest yang cukup menjanjikan, terdapat wisata pantai, kuliner, budaya, religi, dan bahkan wisata minat khusus seperti wisata bawah laut atau memancing. Kalau masih belum dipandang bagaimana mau mempromosikan secara maksimal? Media promosi yang digunakan juga terkesan jadul, terlebih foto yang dipakai juga foto lama yanmg jauh berbda dengan kondisi yang ada.



Justru realita yang terjadi saat ini adalah  wisata di Madura lebih dikenal karena foto-foto yang diambil oleh pengunjung. Campur tangan pemerintah daerah baru datang setelah lokasi wisata tadi lebih dahulu populer di media sosial. Sebagai contoh adalah bukit Jeddih di Bangkalan, sebelumnya tidak ada yang sadar jika perbukitan kapur ini bisa menjadi lokasi wisata dengan popularitas tinggi. Berkat ribuan foto di media sosial akhirnya bukit Jeddih menjadi begitu populer. 

Kekuatan sebuah foto memang begitu kuat sebagai sebuah sarana promosi wsiata. Tidak hanya menjadi media visual belaka, sebuah foto bisa mewakili keterangan verbal dengan mudah. Cukup melihat foto orang akan tahu, lalu akan tertarik untuk berkunjung. Kemudian akan membuat foto yang sama untuk disebarkan lagi melalui media sosial. 

Selasa, 01 Desember 2015

Transportasi VS Geliat Pariwisata



Baiknya fasilitas sistem transportasi umum secara tidak langsung memengaruhi potensi wisata. Tidak semua wisatawan akan berkunjung dengan kendaraan pribadinya, bahkan sat ini trend wisata backpaker tengah naik daun. Wisatawan tentunya enggan berkunjung ke sebuah tempat wisata yang tidak ramah akses transportasi. Karena tidak semua wistawan akan menggunakan kendaraan pribadinya. Sebagian besar wisatawan  lebih memilih kemudahan menggunakan transportasi umum saat berkunjung.Biaya wisata akan menjadi tinggi jika mesti dikalkulasi dengan biaya transportasi. Dirasa mahal, tentunya akan mengurungkan niat calon wisatawan untuk berwisata.

Kesulitan akses dan transportasi memang seakan menjadi masalah yang tidak kunjung ada solusi. Masalah yang seharusnya bisa segera dicari jalan keluar supaya gairah wisata madura meningkat. Bukan tidak mungkin wisatawan akan enggan berkunjung dan memilih tempat lain karena kemudahan akses dan transportasi umumnya.
Memang, Madura belakangan ini tengah menjadi trending topic berkat Gili labak, bukit jeddih, atau bukit arosbaya, dll.Tempat-tempat diatas disebut-sebut sebagai fenomena wista madura yang begitu populer Tidak jarang berbagai artikel wisata di berbagai media sengaja mengangkat tema wisata madura. Cukup membanggakan karena madura tidak lagi identik dengan wisata kerapan sapi saja.

Realitanya, setiap wisatawan yang kali pertama akan berkunjung selalu menanyakan pertanyaan sama. Adakah transportasi yang bisa membawa ke tempat tersebut. Atau, apakah ada jasa penyewaan kendaraan yang kapan saja bisa digunakan. Masalah transportasi sebenarnya tidak hanya terjadi di madura saja, daerah lain juga mengalami hal yang sama. Namun, daerah lain menyiasati dengan memaksimalkan pusat informasi wisatanya. Sedangkan di madura, dari 4 kabupaten yang ada, hanya beberapa yang benar-benar memfungsikan pusat informasinya.

Senin, 23 November 2015

- Taksi Madura -

Tidak sebagus sebutannya, taksi ala madura ini bisa dikatakan jauh dari istilah layak
Kalau bicara tentang taksi di Madura, jangan bayangkan sebuah kendaran model baru dengan argometer seperti kebanyakan kota-kota lain. Bagi orang Madura, taksi ialah sebutan bagi kendaraan  umum seperti angkot di daerah lain. Kemudian muncul istilah naksi  jika menggunakan angkutan umum dari satu tempat ke tempat lainnya. Tidak hanya sebutan bagi angkutan umum di daratan saja, sebutan taksi juga merupakan istilah bagi perahu yang digunakan untuk mengangkut penumpang di kepulauan.
Sayang, tidak sebagus sebutannya, taksi ala madura ini bisa dikatakan jauh dari istilah layak. Selain banyak armada yang sudah tua, jumlah armada yang kurang juga menjadi persoalan. Regulasi yang tidak jelas dan tidak tegas juga turut memperburuk, banyak kendaran plat hitam yang juga ikut menjadi “taksi” tanpa takut dirazia.
Selain itu, sistem trayek yang tidak menentu juga menyumbang rumitnya wajah transportasi umum di Madura. Sangat banyak angkutan umum yang beroperasi tidak sesuai dengan ijin trayeknya. Bahkan, dengan sedikit basa-basi si penumpang bisa saja minta diantar ke tempat tujuannya meskipun jauh dari trayek yang seharusnya, ya mungkin dengan ongkos tambahan. Barangkali hal ini yang membuat istilah taksi terasa cocok dengan angkutan umum Madura karena bisa seenaknya bermain trayek
Persoalan tarif angkutan umum yang tidak seragam semakin membuat wajah transportasi umum di Madura kian buruk. Angkutan umum seenaknya mamatok tarif, terlebih bagi orang yang baru menginjakkan kaki di madura. Budaya tawar-menawar juga diterapkan di transportasi madura, anda beruntng jika bisa naik dengan harga murah berkat kegigihan tawar menawar dengan si kenek, menjadi tidak beruntung jika ternyata ongkos yang anda bayarkan jumlahnya lebih, kalau tidak bertanya si kenek akan diam saja.
Oper angkutan, kejadian yang paling sering dialami oleh hampir semua orang madura yang menggunakan angkutan umum. Jadi, anda dipaksa berganti kendaraan lantaran karena anda hanya satu-satunya penumpang di dalam angkutan umum itu. Hal yang cukup menyusahkan terlebih jika kita membawa barang cukup berat. Beruntung jika si sopir bersedia mencarikan angkutan pengganti, kalau tidak beruntung anda akan diturunkan begitu saja. Bisa dibayangkan jika hal ini terjadi menjelang malam. Anda akan kesulitan saat hendak menggunakan angkutan umum saat sore dan malam hari, mayoritas jam operasional angkutan umum di Madura hanya dari pagi hingga siang. Kalaupun ada yang beroperasi hingga sore hari, itu karena si sopir akan kembali pulang kerumahanya. Otomatis, bukan menjadi kemudahan bagi yang tidak punya kendaraan pribadi ketika hendak bepergian selepas sore hari. 
Saya sebenarnya yakin jika pihak terkait sudah membuat regulasi tentang angkutan umum ini. Tetapi kok sampai saat ini saya belum merasakan dampaknya ya. Mulai dari sejak masih anak-anak hingga sekarang dewasa, masih tidak ada progres positif tentang trasportasi umum di Madura.